Broken Home

By: Kurniati
25 Maret 2019
349

Broken home mengajariku untuk semakin dekat dengan ruang kesabaran dan membuka kesadaranku

Namaku E… …. …. Aku gadis usia 17 tahun yang sedang menginjak remaja, aku dilahirkan di Kebumen pada tanggal 1 oktober tahun 2001, sejak kecil aku tinggal dan di asuh oleh Kakekk nenekkku di dan dibesarkan di sana. Pada umur 10 bulan ayah dan ibuku sudah resmi bercerai, aku sudah tidak tinggal bersama ayah ku lagi, dan saat itu aku sudah 18 bulan ibu ku pun pergi untuk bekerja untuk memenuhi semua kebutuhanku.

Waktu terus berjalan dengan seiring waktu aku pun sudah bertambah umur terkadang saat aku masih kecil aku suka bertanya kepada diriku sendiri perlahan Kakekk dan nenekkku menjelaskan bahwa kedua orang tua ku sudah tidak bersama-sama lagi , tetapi akpun yang masih kecil tidak mengerti apa itu sebuah perpisahan, yang terpenting susu dan janjanku selalu terpenuhi .

Kakek dan nenekku sangat baik pada ku dia selalu ada untuku dia tidak pernah membeda-bedakan aku walau sededar cucu tapi beliau sudah menganggap aku sebagai anak kandung sendiri.

Seiring bertambah umur sekitar aku berumur 7 tahun aku sudah mulai berfikir kenapa ada yang berbeda dan asing dariku kadang aku juga merindukan sosok seorang ayah kata Kakek nenekku ayah ku sedang bekerja di luar pulau tapii kenapa tak kunjung datang menemui ku, teryata Cuma hanya untuk menghiburku , terkadang aku suka iri melihat teman’’ bermain ria dengan ayah nya .aku melihat teman ku sedang di cium ayah nya akupun tanpa ada rasa malu menyuruh ayah nya puput untuk menyiumku, ingin tau rasa nya kaya apa dicium oleh ayah.

Dan seketika itu aku terharu waktu kecil aku suka di olok’’ oleh teman’’ ku kata nya aku tidak punya ayah aku pulang sambil menagis da mengadu kepada nenek ku apa iyaa E...ngga punya ayah ne sambil menagis tersedu’’.

Waktu kelas 1 SD ibu ku menikah dengan pria orang kebumen aku belum mengerti arti menikah itu apa, aku berharap di benaku semogga dia pria yang baik untuk ibu ku dan bisa mencintai ibuku dan mencintai aku seperti dia mencintai ibuku, tanpa membeda-bedakan anak tiri dan anak kandung seiring berjalanya nya waktu mereka mulai berumah tangga tapi aku merasa kenapa ada yang berbeda ibu ku tak sama lagi seperti dulu waktu ibu ku bekerja dia selalu baik kepada ku kenapa setelah menikah dia kasar pada ku…

Aku terkadang suka mengeluh kepada nasib ku ini tuhaan kenapa nasibku begitu malang ayah dan ibu ku suah pisah, bimbang dalam memilih pilihan ikut ibu ku bersama bapak tiri, ikut ayah ku bersama ibu tirii sakittt kecewa mengeluh putus asa campur aduk menjadi satu , sudah kecil mengalami problem seperti ini, terkadang aku suka berfikir tuhan kenapa aku tidak mati saja dari kecil dari pada aku harus menelan kenyataan  hidup di dunia ini hanya seperti ini .untuk apa aku di lahirkan jikalau orang tua ku berpisah dan memilih mempunyai pasangan masing’’ untuk apa aku hidup mungkin kalau aku tidak ada aku sudah bahagia bersamu mu tuhan di syurga sana tanpa harus mengalami penderitaan dan nasib seperti ini.

Waktu pun berlalu hari demi hari tahun berganti tahun  tepat nya aku sudah kelas 6 SD aku mendengar Kakek dan ibu serta ayah tiriku dedang berbincang’’ di ruang tamu mereka sedang berbincang’’ dimana aku akan sekolah SMP nanti ibuku menyarankan aku untuk sekolah dan ikut bersama dia, tapi Kakek ku menolak nya dia ingin mengurus ku lagi lebih lama lagi aku tidak boleh ikut ibuku Kakek bilang “ jangan jangan di bawa dulu biarkan anak mu bersama ku 3 tahun lagi aku masih sangat menyayanginya, besok semisal kalau sudah smk terserah boleh ikut kamu’’ dan ibu ku pun menyutujuinya,

Waktu pun berlalu aku sudah memasuki smp kelas 3  dan aku sebentar lagi lulus terpaksa aku harus ikut ibuku di karganyar terpaksa sekali enggan berpisah dengan Kakek nenek ku enggan sekali berpisah aku sudah terlanjur mecintai nya melebihi orang tua ku sendiri.

Tuhaan kenapa ketika aku sudah sangat nyaman dengan mereka aku pisah, berat sekali tapi aku tekdkan untuk menuntut ilmu dengan alasan sekolah yang dekat dan jarak yang tidak begitu jauh aku pun menyetujuinya. Itu semua saran dari nenekku yang penting mereka bahgia akan aku lakukan ini sama sekali tidak ada niatan aku disana sangat terpaksa.

Ditempat yang baru aku pun beradapatasi jauh berbeda dengan di kampung tiap malam selalu menagis teringat nenekk dan Kakek ku, sabar sabar disini aku Cuma tiga tahun kok sabar dan kuat ingat tujuan utama ku disini mencari ilmu.

Ada yang kurasakan di sana perlakuan tidak enak oleh ayah tiri dia selalu membeda beakan aku dengan anak nya, dia kadang suka menghasut ibu ku sehingga kadang dia tidak membelaku, sedihhh perih rasanya ketika mereka ber tiga selalu berkumpul dan bercanda tawa aku selalu menghindar dan menjauh.

Suatu ketika sat itu aku bermain dengan teman ku pergi keluar melepas beban dari fikiran ku waktu itu aku bermain males rasa nya di rumah aku pergi saat itu sekitar jam 1,

Akupun sudah pamitan tapi cuaca nya sedang mendung dan mungkin salah aku mengheningkan hanpone saat itu cuaca sedang buruk ibu ku khawair dengan ku aku pulang dimarahi dengan sangat hebat, dia memarahiku di depan orang banyak malu rasanya mbok ya dengarkan penjelasanku dulu.

Ibuku memang kalau emosi tidak bisa di control satu hal yang menyayat hatiku dia dan bapak tiriku mengusirku dari rumah sedih rasa nya mereka bilang tidak sanggup lagi mengurusi ku padahal Cuma maslah seperti itu, ko bisa ya tega sama aku, aku disuruh mengemas baju-bajuku di usir dengan kasar. Waktu itu aku sudah tidak tahan  lagi kenapa ko tega ya orang tua sendiri seperti itu Kakek dan nenek ku pun yang Cuma Kakek nenekk tidak pernah seperti itu kenapa mereka tega. Hancur rasa nya sedih ngga bisa diceritakan lagi.

Mau mengeluh sama siapa sedangkan aku tidak punya siapa-siapa disana. Aku hanya memohon dan curhat kepada mu ya rob. Tetapi aku harus kuat akan ku buktikan kepada mereka walau mungkin perilaku mereka buruk terhadap ku akan tetap ku balas baik nanti kalu sudah kerja .

Broken home mengajariku tentang bagai mana, aku harus memegang konsep ikhlas  dalam penerimaan takdir dan titah nya menerima kehilangan sebagai bentuk proses penempaannku untuk belajar mandiri dalam menghadapi hidup, tidak tergantung pada sosok ayah dan ibu .

Broken home mengajariku untuk semakin dekat dengan ruang kesabaran dan membuka kesadaranku bahwa keluh tidak mampu meringankan beban untuk menindih pundak. Hanya mendekat dengan sang penciptanya untuk lebih memohon kepda nya kedamaian hati ii aku dapat. Hanya satu pintaku cukup semua ini aku yang merasakan besok anaku jangan

Terkadang rencana tuhan memang indah aku tau mengapa tuhan memberikaan cobaan ini kepada ku karena aku ini mampu yakinlah apapun takdir yang kita sekarang itu adalah garis takdir tuhan yang terbaik untuk kita, yakinlah allah tidak mungkin menguji hambnya tidak mungkin melebihi kemampuan batas hamba nya.

Pesan dari Semangat terus untuk Kalian Anak Broken Home kalian tida sendiri kalian berbeda dan kalian itu luar biasa jangan jadikan takdirmu itu sebagia halagan mu untuk sukses, jadikan semua itu sebagai tempaan hidup mu untuk menghadapi tempaan dunia ini yang begitu keras semangatttttt!!!!!!!!!!

 

 

                                                                             Ditulis oleh : E.. ..... …..


Kurniati

Content Creator | Kelas OTKP2 2017, Anggota Patroli Kemanana Sekolah, Mentor of Tamtama English Club

Komentar
64x64

Gunarso

28 Maret 2019
Bagus sampai terharu bacanya
64x64

Sukinah

26 Maret 2019
Nais Sangat menywntuh❤️
64x64

Rasty

25 Maret 2019
Bagus
64x64

Taufik Rianto

25 Maret 2019
Kata-katanya bagus
Tinggalkan Komentar

Create Account



Log In Your Account