Di Antara Dua Cahaya: Imlek dan Datangnya Ramadhan

Februari selalu datang dengan nuansa yang berbeda. Pada momentum perayaan Imlek dan menjelang datangnya bulan puasa Ramadan, masyarakat Indonesia merasakan dua peristiwa spiritual yang hadir berdekatan. Dua tradisi, dua keyakinan, namun sama-sama membawa pesan tentang harapan dan pembaruan diri.

Jurnalistik Anggi Yulinda (Photo: https://www.canva.com/design/DAHCGqvzk18/45LkfnADEjVFZ_ckqtxIOQ/edit?utm_content=DAHCGqvzk18&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton)

Imlek identik dengan kebersamaan keluarga, doa-doa baik, dan semangat memulai lembaran baru. Lentera merah yang menyala bukan sekadar hiasan, melainkan simbol harapan akan kehidupan yang lebih terang. Dalam tradisi Tionghoa, pergantian tahun dimaknai sebagai waktu untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk di masa lalu dan menyambut keberuntungan dengan hati yang lebih terbuka.

 

Sementara itu, Ramadan disambut dengan persiapan batin—menata niat, menjaga diri, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama. Mengutip laman Kementerian Agama Republik Indonesia, Ramadan dipahami sebagai bulan suci yang menjadi momentum peningkatan ketakwaan, pengendalian diri, serta penguatan solidaritas sosial melalui ibadah dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Ramadan tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sosial.

 

Meski berbeda dalam praktik dan makna teologis, keduanya memiliki benang merah yang sama: refleksi. Imlek mengajak untuk bersyukur dan mempererat hubungan. Ramadan mengajarkan kesabaran serta empati sosial. Keduanya memberi ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan, melihat ke dalam diri, lalu melangkah kembali dengan hati yang lebih jernih.

 

Di tengah keberagaman Indonesia, kedekatan dua momentum ini justru terasa hangat. Ia menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan sekadar untuk diakui, tetapi untuk dihormati. Kita mungkin merayakan dengan cara yang berbeda, namun tetap berbagi ruang sosial yang sama—saling memberi ucapan, saling menjaga suasana, dan saling memahami.

 

Februari pun menjadi jembatan: dari gemerlap lentera menuju keteduhan fajar. Dari perayaan menuju perenungan. Perubahan suasana ini mengajarkan kita untuk lentur, mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa dekat dua peristiwa ini hadir dalam satu bulan, melainkan bagaimana kita memaknainya. Apakah sekadar pergantian momen, atau kesempatan untuk memperluas empati dan memperdalam toleransi?

 

Lentera dan fajar memang berbeda cahaya. Namun keduanya sama-sama menerangi—dan di situlah kita belajar bahwa keberagaman tidak mengurangi terang, justru menambahkannya.

 

Sumber: https://kemenag.go.id/