Setiap 21 April, kita ngerayain Hari Kartini, mengenang sosok R.A. Kartini yang terkenal sebagai pelopor emansipasi perempuan. Lebih dari 100 tahun sejak kelahirannya, namanya masih muncul di lomba busana adat, talkshow, sampai diskusi tentang peran perempuan. Tapi sekarang, pertanyaannya: apakah Hari Kartini masih penting buat kita di 2025?
Jurnalistik Aatifah Abel (Photo: https://grok.com/imagine/post/ddc79d04-76c5-4c21-9f08-acf50ae28241)
Jawabannya: iya banget, malah makin penting.
Kartini itu bukan cuma ikon perempuan Jawa yang berjuang biar bisa sekolah dan bebas berpikir. Ia juga simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang masih ada sampai sekarang. Masalah kayak kesenjangan gender, kekerasan terhadap perempuan, stereotip sosial, sampai keterbatasan akses pendidikan dan kerja masih nyata di banyak tempat di Indonesia.
Lewat tulisannya, Kartini ngasih kita pelajaran penting: berani bicara dan lawan ketidakadilan. Nah, semangat itulah yang harus kita terus hidupkan. Di zaman digital sekarang, emansipasi nggak cuma soal sekolah atau kuliah. Ini juga tentang kesetaraan di dunia digital, literasi teknologi, ikut ambil keputusan, dan punya suara di ruang publik.
Hari Kartini juga jadi momen buat kita refleksi: udah cukup belum ruang perempuan untuk bikin keputusan? Apakah perempuan di pelosok negeri punya hak dan akses yang setara sama yang di kota? Sudahkah perempuan Indonesia bebas menentukan hidupnya sendiri?
Jadi, merayakan Hari Kartini bukan cuma soal pakai kebaya atau upacara. Ini soal mewujudkan gagasannya di kehidupan nyata—melalui pendidikan, kesadaran gender, dan kebijakan yang adil. Hari Kartini itu ibarat obor: harus terus dinyalain supaya masa depan lebih adil dan setara.