Masih menjalani hari-hari yang dimaknai senyum-senyum mereka yang tertata. Seperti halnya dengan beberapa anak berlarian menuju ruang kelas megah. Sejenak terpikir bahwa seperti itulah aku dulu. Dan kini? Sepertinya tidak berbeda. Sementara ini aku masih terdiam disebuah ruangan yang sesak dengan benda-benda yang menyesaki. Dan, ternyata kemarau masih tersisa jelas. Kembali hawa dingin khas kemarau masih betah menyelimutiku dimalam ini. Dimana sore ini bulan redup. Naun kini sang dewi malam sedang cantik-cantiknya disana. Seruan-seruan binatang malam masih setia mengiringi angan-anganku dengan orkestra indah. Bersautan, dan berkesinambungan. Ragaku tergontai diatas tempat tidur. Anganku melayang, asaku bercengkerama dengan alam sadarku. Fikirku masih pada satu hal yang memang belum tertera sama sekali. Aku belum tahu. Masih menjalani hari-hari yang dimaknai senyum-senyum mereka yang tertata. Seperti halnya dengan beberapa anak berlarian menuju ruang kelas megah. Sejenak terpikir bahwa seperti itulah aku dulu. Dan kini? Sepertinya tidak berbeda. Aku berlarian. Berkejar-kejaran dengan waktu yang tak mau sejenakpun untuk berhenti. Entah, aku tak berdaya dihadapan waktu. Waktu yang sudah merenggut masa mudaku. Dan beberapa kesenangan. Lalu, seperti yang sudah terlaksana. Aku berteriak dalam hati. Mencari, menjalani, mengevaluasi, dan mendapati hal yang rancu dan tidak pasti. Ah, dibalik keramaian, ribuan senyuman, dan sapaan manja mereka, ada satu jiwa yang begitu sepi.