Saat Buku Pindah dari Rak ke Dashboard

Memaknai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia di Tengah Era Scroll

“Kami ingin mengundang semua orang, di mana pun mereka berada, untuk membuka buku, mengambil pena, dan merayakan kreativitas tanpa batas yang telah membentuk sejarah manusia.”

Proklamasi UNESCO saat menetapkan 23 April sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia pada Konferensi Umum ke-28 di Paris, 1996. Gagasannya lahir dari International Publishers Association di Barcelona pada tahun yang sama.

 

Jurnalistik Anggi Yulinda (Photo: https://g.co/gemini/share/01e7e5050308)

Tanggalnya bukan asal tunjuk. 23 April dipilih karena bertepatan dengan hari wafat Miguel de Cervantes, William Shakespeare, Inca Garcilaso de la Vega, serta kelahiran penulis besar lain. Simbolnya jelas: satu generasi penulis pergi, generasi baru lahir.

2026, proklamasi itu harus kita baca ulang.

“Buka buku” sekarang jadi “buka PDF”. “Ambil pena” sekarang jadi “buka keyboard”. “Merayakan kreativitas” sekarang jadi “upload konten sebelum jam 12 malam biar kebaca algoritma”.

 

Dari Rak Perpustakaan ke Rak Digital

Dulu pengetahuan dijaga di perpustakaan. Kuncinya di pustakawan. Mau pinter = harus ke kota, harus punya akses fisik.

Sekarang pengetahuan ada di dashboard. Kuncinya di kuota dan sinyal. Mau pinter = harus bisa filter hoax dari ilmu. Perpustakaannya pindah ke YouTube, e-course, jurnal open access, sampai grup WA “Template Konten Gratis”.

Ironinya: akses lebih gampang, tapi “membaca” justru lebih susah. Dulu musuhnya sensor dan buku dibakar. Sekarang musuhnya notifikasi dan otak yang keburu ke-distract sebelum kelar 1 halaman.

Bahkan cara kita merayakan ilmu pun berubah. Pengetahuan sekarang dipamerkan dalam bentuk teknologi dan solusi, bukan cuma dibaca di buku.

 

 Hak Cipta di Era Screenshot

UNESCO sengaja menyertakan “Hak Cipta” di nama harinya. Tahun 1996 itu relevan: pembajakan buku fisik marak.

Tahun 2026? Pelanggarannya terjadi tiap detik. Desain digital dijiplak dan dijual lebih murah. Modul ajar yang dibikin seminggu, di-screenshot dan disebar di grup gratis. E-book yang dijual 50 ribu, nongol di Telegram besoknya.

Dashboard jadi pedang bermata dua. Dia ngasih panggung buat penulis, kreator, dan pengajar buat jualan ilmu langsung ke audiens. Tapi dia juga ngasih jalan tol buat pembajakan. Kreator hari ini nggak cukup pinter nulis. Harus pinter watermark, paham hukum ITE, dan siap mental kalau karyanya dicolong.

Tujuan Hari Buku ini diadopsi oleh 100+ negara anggota UNESCO. Artinya, perlindungan hak cipta itu PR global. Bukan cuma urusan penerbit gede.

 

Membaca Sebagai Tindakan Perlawanan

Dulu, membaca adalah tindakan melawan gelap: melawan buta huruf, melawan sensor, melawan monopoli pengetahuan.

Sekarang, membaca adalah tindakan melawan dangkal. Melawan algoritma yang bikin kita betah nonton video 15 detik tapi nggak kuat baca artikel 5 menit. Melawan budaya scroll yang bikin otak terbiasa dengan potongan, bukan pemahaman utuh.

 

Merayakan Hari Buku 2026 tidak perlu rumit. Tidak harus ke toko buku atau unggah foto tumpukan bacaan.

 

1. Hargai dengan membeli:  Menemukan e-book atau modul yang membantu? Beli. Harga beberapa puluh ribu itu pengganti waktu dan tenaga penulisnya. Berhenti meminta versi gratis ke orang lain.

2. Beri kredit: Menggunakan ilmu dari kreator? Sebutkan namanya. Memberi atribusi tidak mengurangi apa pun, justru membantu kreator terus berkarya.

3. Baca sampai tuntas: Satu artikel. Satu bab. Tanpa melompat ke akhir. Membiasakan otak untuk fokus lebih dari lima menit.

Karena “gelap” hari ini bukan berarti dilarang membaca. Gelap itu saat kita merasa tahu segalanya dari potongan video, padahal tidak paham utuh.

Buka buku. Buka PDF. Formatnya bebas. Yang penting jangan sampai jadi generasi dengan akses paling luas, tapi paling malas berpikir.

 

Referensi

1. UNESCO. _World Book and Copyright Day Proclamation_. Diadopsi pada Konferensi Umum UNESCO ke-28, Paris, 1996. Usulan awal dari International Publishers Association

2. SOLARTECH Indonesia 2025. Pameran energi surya & smart city, 23–25 April 2025, JIEXPO Kemayoran

3. Megabuild Indonesia 2025. Pameran konstruksi & arsitektur, 24–27 April 2025, Jakarta Convention Center