Hari Anak Nasional 2026: Versi Anak SMK Itu Gimana?

Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Tahun ini mengusung tema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju". Peringatan ini menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

Jurnalistik Anggi Yulinda (Photo: )

Namun pertanyaannya, bagaimana peringatan itu dimaknai oleh anak SMK? Di STAMKA, suasana 23 Juli kemarin berjalan seperti hari biasa. Tidak ada panggung meriah. Tapi bukan berarti semangat "Hari Anak" tidak ada.

 

Belajar Adalah Hak, Praktek Adalah Jalan Kami

Berbeda dengan sekolah umum, anak SMK menghabiskan sebagian besar waktu di ruang praktek. Di sinilah kami belajar mandiri, bekerja sama, dan menyiapkan diri untuk dunia kerja.

Anak TJKT duduk di depan komputer, menyetting jaringan, membuat website, dan belajar cyber security.  

Anak TO berkutat dengan kunci inggris, membongkar mesin, dan belajar diagnosa kendaraan.  

Anak MPLB berlatih mengetik 10 jari, membuat surat resmi, dan simulasi jadi sekretaris profesional.  

Anak AKL teliti dengan angka, membuat jurnal, dan laporan keuangan perusahaan.  

Anak PEMASARAN praktek berjualan, membuat konten promosi, dan belajar melayani pelanggan.

"Bagi kita, praktek itu bukan beban. Justru dari praktek kita ngerti teori yang kemarin. Salah itu wajar, karena dari situ kita belajar," ujar Putri, siswa jurusan TJKT kelas XI.

 

Didengar Bukan Lewat Pidato, Tapi Lewat Karya

Hak anak untuk didengar tidak selalu harus lewat orasi. Di SMK, kami menyuarakannya lewat karya dan prestasi. Lewat lomba LKS, uji kompetensi, proyek kelas, hingga forum OSIS.

"Kami berharap sekolah bisa terus melengkapi alat praktek. Karena itu modal utama kami buat bersaing pas lulus nanti," kata Annisa dari jurusan MPLB.

Harapan lain yang sering muncul adalah waktu istirahat yang cukup dan apresiasi untuk setiap jurusan. Anak SMK ingin diakui bahwa jurusan mereka punya peran penting.

 

Ruang Bermain Tetap Ada, Walau Jadwal Padat

Di balik jadwal praktek yang padat, anak SMK tetap punya cara untuk "bermain". Istilah kami sih "healing tipis-tipis". Ada yang main futsal sepulang sekolah, ikut ekskul pramuka, PMR, atau sekadar nongkrong di kantin sambil cerita bareng teman.

"Jam istirahat 15 menit itu berharga banget. Buat ketawa, buat ngobrol, biar gak stres mikirin tugas," ujar Fazi dari jurusan TO.

Ini juga bentuk pemenuhan hak anak: hak untuk bermain dan berekspresi.

 

Anak SMK Juga Punya Cerita

Hari Anak Nasional tidak harus selalu diperingati dengan acara besar. Bagi kami anak SMK di STAMKA, cara memperingatinya adalah dengan terus belajar, terus berkarya, dan menjaga semangat.

Karena pada akhirnya, anak SMK juga anak. Hak kami sama: mendapatkan pendidikan layak, didengar, dan memiliki ruang untuk bertumbuh menjadi generasi yang siap kerja, siap kuliah, dan siap berwirausaha.

Selamat Hari Anak Nasional 2026.