Setiap kali musim kemarau datang, Kalimantan kembali menangis. Bukan karena hujan yang tak kunjung turun. Tapi karena apinya.
Jurnalistik Anggi Yulinda (Photo: https://share.google/S2ohijIiw3PADiJcl)
Hutan yang dulu rimbun, kini berubah jadi abu. Asapnya naik ke langit, menggantung berat, lalu turun lagi menyelimuti rumah-rumah. Anak-anak sekolah memakai masker. Lansia batuk sepanjang malam. Langit yang biasanya biru, berubah jingga kelabu. Seolah matahari malu menunjukkan wajahnya.
Siapa yang membakar?
Kadang kita menyalahkan alam. Menyalahkan kemarau. Menyalahkan El Nino. Padahal sebagian besar api itu dinyalakan oleh tangan manusia.
Demi membuka lahan. Demi sawit. Demi cepat. Demi murah. Mereka bakar hari ini, tapi yang menanggung asapnya adalah anak cucu kita esok hari.
Lahan gambut ikut terbakar. Dan itu paling perih. Karena gambut bukan sekadar tanah. Dia menyimpan ribuan tahun cerita. Menyimpan karbon. Menyimpan kehidupan.
Saat gambut terbakar, apinya tidak terlihat. Dia membara di dalam tanah, diam-diam, selama berminggu-minggu. Sulit dipadamkan. Sama seperti luka yang ditinggalkan.
Yang terdampak bukan hanya pohon
Orangutan kehilangan rumah dan berlari kebingungan ke jalan. Bekantan kehilangan sungai. Petani gagal panen karena matahari tertutup asap. Ibu-ibu di dapur menutup rapat jendela, tapi asap tetap masuk lewat celah. Penerbangan tertunda. Sekolah diliburkan. Kota jadi sepi.
Dan yang paling menyakitkan: kita jadi terbiasa. "Ah, asap lagi." Seolah itu hal normal.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Pemerintah berupaya. Ada water bombing, ada patroli, ada restorasi gambut. Tapi api akan terus kembali kalau hati manusia belum berubah. Selama masih ada yang menganggap hutan hanya "lahan kosong", Selama masih ada yang memilih cara pintas dengan membakar,
Maka Kalimantan akan terus terbakar. Kalimantan bukan milik kita hari ini saja. Dia titipan untuk anak-anak yang belum lahir. Dia paru-paru dunia. Dia rumah bagi ribuan spesies. Dia penjaga iklim.
Jangan biarkan kita hanya mengingat Kalimantan dari foto-foto "sebelum terbakar". Jangan biarkan tangis hutan ini hanya jadi berita musiman yang kita scroll lalu lupa. Karena saat hutan terbakar, sebenarnya manusialah yang sedang kehilangan dirinya sendiri.